Sorong, – Kasatgaswil Densus 88 Anti Teror Polri Papua Barat berkolaborasi dengan Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Kabupaten Sorong, Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kabupaten Sorong, dan Kemitraan Australia-Indonesia (INKLUSI) menggelar sosialisasi pencegahan paham Intoleransi, Radikalisme, Ekstremisme, dan Terorisme (IRET) serta pernikahan dini.

Kegiatan sosialisasi kebangsaan ini dipusatkan di SMA Negeri 5 Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya, pada Sabtu (19/9/2026) pagi. Edukasi intensif ini menyasar sekitar 200 siswa-siswi guna memperkuat ketahanan ideologi Pancasila, mencegah penyebaran paham Nihilistic Violent Extremism (NVE), serta membendung radikalisasi digital di kalangan pelajar.

Acara dibuka secara resmi oleh Ketua TP PKK Kabupaten Sorong, Junita Linda Kamuru. Dalam sambutannya, ia mengingatkan para pelajar agar bijak dalam memanfaatkan teknologi informasi.

“Anak-anak kita adalah generasi emas yang dituntut untuk mempersiapkan masa depan dengan luar biasa. Yang pertama adalah belajar membangun karakter sebagai generasi Indonesia Emas yang siap menuju Indonesia Emas 2045,” ujar Junita.

Ia menambahkan bahwa di era digital, media sosial memiliki dua sisi mata uang. “Kita tahu media sosial memiliki hal-hal yang baik, tetapi juga ada hal-hal yang tidak baik, ada yang negatif dan ada yang positif. Karena itu, anak-anak harus bisa memilih dan menggunakan media sosial dengan bijak,” tegasnya.

Sebagai narasumber utama, Kasatgaswil Papua Barat Kombes Pol. Gede Suardana, S.Pd., M.M., memaparkan secara mendalam bahaya radikalisasi digital dan cara mengenali potensi paham radikal sejak dini. Ia menekankan bahwa tantangan yang dihadapi generasi muda saat ini semakin kompleks, terutama akibat pesatnya informasi di media sosial yang sering kali menjadi pintu masuk doktrin berbahaya.

“Lingkungan keluarga, sekolah, maupun pergaulan sangat menentukan perkembangan kepribadian pelajar. Ketiga pilar lingkungan inilah yang memberikan pengaruh besar terhadap arah masa depan, pendidikan, dan kesehatan para siswa,” jelas Kombes Pol. Gede Suardana.

Tidak hanya fokus pada isu radikalisme, perwakilan dari Kemitraan Australia-Indonesia (INKLUSI) juga memberikan edukasi krusial mengenai pencegahan perkawinan anak. Mereka membedah dampak buruk pernikahan dini yang luas terhadap kelanjutan pendidikan, risiko kesehatan reproduksi, hingga perkembangan psikologis remaja.

Melalui kegiatan ini, para siswa diharapkan mampu berpikir lebih kritis, tidak mudah terprovokasi oleh konten hoaks atau ujaran kebencian, serta mampu melakukan verifikasi informasi sebelum menyebarkannya di media sosial.

Kolaborasi lintas sektor ini mempertegas komitmen bersama untuk menjadikan lingkungan sekolah sebagai ruang yang aman, toleran, inklusif, sekaligus mencetak pelajar yang siap menjadi agen perubahan berdasarkan nilai-nilai Pancasila.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Kepala Sekolah SMAN 5 Kabupaten Sorong Ficce Loppies, Sekretaris TP PKK Juan Flor Adelle, Admin TP PKK Rabon F. T. Walukow, Ketua DWP Kabupaten Sorong Ny. Runa Bremantyo, dan Sekretaris DWP Ny. Yuli Samori. Sementara dari personel Satgaswil Papua Barat, hadir mendampingi Kasatgaswil yaitu Ipda Arfa Jaya, S.H., Briptu Halim Hanafi, S.H., Briptu M. Akbar Sawaluddin, dan Briptu Rudolf Armando Silaen.

(Red/Rezha LDD)