Jakarta, – Menjadi Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri) bukanlah perkara mudah. Di era keterbukaan informasi, sorotan publik bak pisau bermata dua: prestasi anak buah adalah kewajiban, namun pelanggaran anggota adalah tanggung jawab mutlak sang pemimpin.
Di bawah komando Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo, Korps Bhayangkara terus diuji oleh berbagai gelombang ujian integritas. Berbeda dengan era sebelumnya, sejumlah perwira tinggi yang diduga melanggar hukum maupun kode etik kini langsung diproses tanpa pandang bulu sesuai mekanisme yang berlaku.
Langkah berani ini dipandang banyak pihak sebagai bukti nyata komitmen terhadap akuntabilitas dan reformasi internal. Membenahi organisasi sebesar Polri tentu bukan pekerjaan yang selesai dalam semalam, melainkan sebuah proses panjang yang menuntut konsistensi.
Kritik tajam dari masyarakat sipil adalah vitamin bagi demokrasi. Namun, reformasi di tubuh Polri juga membutuhkan keberanian luar biasa untuk mengambil keputusan yang tidak selalu populer di internal sendiri. Menjadi pemimpin tertinggi berarti siap berdiri di garis depan untuk menerima pujian sekaligus cibiran. Bagi Jenderal Polisi Listyo Sigit, yang terpenting adalah menjaga integritas, menegakkan aturan, dan terus berupaya memperbaiki institusi dari dalam.
Meski demikian, ada satu hal yang menjadi prinsip utamanya dalam memimpin Korps Bhayangkara. Baginya, yang terpenting adalah menjaga integritas, menegakkan aturan dengan tegas, dan terus berupaya memperbaiki institusi tanpa kenal lelah. Sebab pada akhirnya, publik akan selalu menilai institusi dari keberanian bertindak nyata, bukan sekadar bualan kata-kata.
Sebab pada akhirnya, publik tidak akan menilai dari sekadar narasi atau kata-kata manis, melainkan dari keberanian nyata dalam bertindak. Sebuah prinsip kokoh yang selaras dengan komitmen spiritual dan moral seorang ksatria: “Meskipun saya diberikan jabatan tertinggi di Polri, kalau institusi kami dilemahkan, lebih baik saya mundur menjadi petani yang mulia.”
Pernyataan ini seolah menjadi simbol keteguhan hatinya untuk tidak berkompromi terhadap berbagai hal yang berpotensi merusak marwah Polri di mata masyarakat. Pembenahan di tubuh Polri memang masih menjadi pekerjaan rumah yang terus berjalan. Namun, keberanian untuk bersikap tegas dan transparan di era Listyo Sigit diharapkan menjadi fondasi kuat dalam mengembalikan sekaligus merawat kepercayaan publik terhadap penegak hukum di Indonesia.
(Red)

